Fadilah Menuntut Ilmu & Etika Dalam Menuntut Ilmu

DALAM sebuah cerita dikisahkan suatu hari Rasulullah SAW datang ke masjid. Di muka pintu masjid itu beliau melihat syaitan yang ragu-ragu akan masuk. Lalu beliau menegurnya. ”Hai syaitan, apa yang sedang kamu kerjakan disini?” Syaitan menjawab “Saya akan masuk masjid untuk mengganggu orang yang sedang shalat. Tetapi aku takut kepada lelaki yang sedang tidur. Segera beliau menjawab, “Hai Iblis, mengapa kamu tidak takut kepada orang yang sedang shalat menghadap Tuhannya, tetapi kamu malah takut kepada orang yang sedang tidur?” Setan menjawab, “Betul, sebab orang yang sedang sholat itu bodoh sehingga mengganggunya lebih mudah. Sebaliknya orang yang sedang tidur itu adalah orang yang alim, sehingga saya kuatir seandainya saya ganggu orang yang sedang shalat itu, maka orang alim yang sedang tidur itu akan bangun dan membetulkan shalatnya.

Setelah peristiwa itu Rasul bersabda, “Tidurnya orang alim lebih baik daripada ibadahnya orang yang bodoh.” Dari kisah diatas kita dapat mengambil pelajaran bahwa itulah salah satu fadhilah atau keistimewaan ilmu. Menurut Qurais Shihab dalam salah satu bukunya Wawasan Al-quran kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-quran. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Ilm’ dari segi bahasa berarti pengetahuan sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ilmu berarti pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara tersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan.

Mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim. Islam tidak bertanggung jawab dari setiap orang yang bodoh. Kata Nabi “Bukan termasuk golonganku kecuali orang yang berilmu atau orang yang mencari ilmu”. Kita sebagai manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya tentu saja dengan ikhtiar dan de-ngan seizin Allah. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal tersebut. Fadhilah atau keutamaan mencari ilmu banyak sekali di sampaikan di dalam Al-Quran. Salah satunya terdapat di dalam Al-quran surat Al-Mujadalah ayat 11. Yang artinya “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Keutamaan ilmu yang kedua adalah sebagai Jalan menuju kebahagiaan. “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu Allah memudahkan baginya menuju surga.” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Ketiga, orang yang mencari ilmu dijadikan kekasih Allah dan malaikat memberi dukungan serta pertolongan.  Keempat, Keutamaan ilmu lebih baik daripada ibadah. (HR thaabarani) Seperti yang terdapat dalam kisah dari hadits diatas. Perhatian Islam terhadap ilmu serta untuk mendapatkan faedah serta pengalamannya sesuai dengan yang diharapkan.

Bagaimana tata cara memperoleh ilmu? Salah satu cara memperoleh ilmu adalah dengan membaca. Seperti terdapat dalam wahyu pertama surat Al-alaq. Dalam wahyu pertama Allah menghendaki kita untuk membaca apa saja selama bacaan itu bismi rabbik dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra berarti bacalah, telitilah, damailah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Dalam mencari ilmu ada beberapa adab atau etika yang perlu diperhatikan oleh para penuntut ilmu, agar mendapatkan keberkahan saat mencari maupun saat mengamalkan ilmunya diantaranya:
Pertama, Ikhlas dalam mencari ilmu. Mencari ilmu hanya untuk mencari keridhaan Allah dan melaksanakan perintah Rasulullah dan takut mendapatkan ilmu yang hanya sekedar untuk mencari harta benda.

Kedua, Mengutamakan ilmu wajib, baru ilmu lain. Hendaknya penuntut ilmu mengutamakan ilmu yang hukum-nya fardhu ain (wajib yang tidak boleh diganti orang lain) untuk dipelajari terlebih dahulu, khususnya masalah agama. Semisal masalah akidah, halal haram, kewajiban yang dibebankan kepada muslim, maupun lara-ngannya. Sebab itulah orangtua harus mengajarkan hal itu kepada anak mereka, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.“ (At-Tahrim 66;6). Setelah mempelajari ilmu yang hukumnya fardhu ain, boleh mempelajari ilmu-ilmu yang fardu kipayah, seperti menghafal alquran dan hadits, nahwu, ushul fikih, dan lainnnya. Selanjutnya mempelajari ilmu-ilmu yang bersifat sunnah, seperti penguasaan salah satu cabang ilmu itu secara mendalam.

Ketiga, Meninggalkan ilmu yang tidak bermanfaat.Tidak semua ilmu itu boleh dipelajari. Karena ada ilmu yang tidak bermanfaat atau bahkan ilmu yang menjerumuskan orang lain yang mempelajarinya kepada keburukan. Oleh sebab itu yang dilarang bagi seorang muslim mempelajari sihir, karena bisa menjadi jalan menuju kekufuran. Firman Allah yang maknanya ”Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal Sulaiman itu tidak kafir, tidak mengerjakan sihir hanya syaitan-syaitanlah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut…” (Al-Baqarah(2):102).
Keempat, Menghormati ulama dan Guru. Sabda Rasulullah SAW. “Barangsiapa menyakiti waliku, maka aku telah mengumandangkan perang kepadanya.” (riwayat Bukhari). Imam As-Syafi’i dan Abu Hanifah pernah menyatakan, “Jika para fuqaha bukan wali Allah maka Allah tidak memiliki wali.” Begitulah akhlak mulia Islam menghormati guru-guru kita.

Kelima, Tidak Malu dalam Menuntut Ilmu. Sifat malu dan gengsi, boleh menjadi penghalang seseorang untuk memperoleh ilmu. Oleh karena itu para ulama menasihati agar kedua sifat itu ditanggalkan, hingga pengetahuan yang bermanfaat boleh didapat. Aisyah ra pernah mengatakan dalam As-shahih, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk menuntut ilmu.”

Keenam, Memanfaatkan waktu dengan baik. Hendaknya para pencari ilmu tidak mensia-siakan waktu, hingga melewatkan kesempatan belajar. Ulama besar seperti Imam Bukhari boleh dijadikan contoh tauladan dalam hal ini. Diriwayatkan bahwa beliau menyalakan lentera lebih dari 20 kali dalam semalam, untuk menyalin hadits yang telah beliau peroleh. Artinya beliau amat menghargai waktu, malam haripun tidak beliau mencari ilmu lewatkan kecuali untuk menimba ilmu.
Mudah-mudahan kita selalu memiliki semangat untuk terus mau belajar dan mencari ilmu. Sehingga fadhilah atau keutamaan dari ilmu yang kita cari dapat kita raih. ***

Penulis adalah Guru kelas 2 SD Assalaam

Related posts

UJI KOMPETENSI BACA AL-QUR’AN SD ASSALAAM

UJI KOMPETENSI BACA AL-QUR’AN SD ASSALAAM

Pada hari Sabtu, 6 Oktober SD Assalaam menyelenggarakan program Uji Kompetensi Baca Al-Qur’an dari pukul 07.00-12.00. Program ini diikuti oleh seluruh peserta didk kelas 4 – 6 yang berjumlah sekitar 573 orang dari kelas ACE maupun BDF, dengan jumlah penguji 17 orang. Kegiatan Uji Kompetensi baca...

Sekilas Ekskul SD Assalaam

Sekilas Ekskul SD Assalaam

Kegiatan ekskul yang difasilitasi SD Assalaam diharapkan dapat menampung dan menyalurkan bakat dan minat seluruh peserta didik SD Assalaam. Walaupun dengan keterbatasan tempat, diusahakan kegiatan ekskul dapat berkembang menjadi wahana meraih prestasi Jenis ekskul yang disediakan tidaklah...

LESSON STUDY: MENGKRITIK GURU MELALUI AKTIVITAS SISWA

LESSON STUDY: MENGKRITIK GURU MELALUI AKTIVITAS SISWA

SUMBER Daya Manusia (SDM) yang handal adalah produk sebuah proses pendidikan, baik melaui pendidikan formal maupun pendidikan non-formal. Tahap pendidikan formal didapatkan dari sekolah. Bagaimana sekolah bisa menghasilkan SDM yang handal? Pintu masuknya adalah pembelajaran, dan guru adalah...

2 Comments

  1. rembang 02/02/2014
    Reply

    sd assalam terbaik

  2. rembang 02/02/2014
    Reply

    luar biasa
    mkasih sharenya sd assalam joss

Leave a comment